League Of Legends

5 Tim Underdog Paling Impresif Dalam Sejarah World Championship

Laurent VicSunday, 22 September 2019
Logo article
Ads

Beberapa hari yang lalu, kita sudah melihat tim-tim mana saja yang tampil mengecewakan dalam sejarah World Championship. Meskipun datang dengan ekspektasi yang tinggi dan beberapa dari mereka termasuk unggulan, tim-tim tersebut gagal menjawab ekspektasi tersebut dengan baik dan menunjukkan hasil yang sangat mengecewakan.

Namun World Championship tidak hanya soal kegagalan saja. Selama perhelatan World Championship, beberapa tim underdog yang tidak diunggulkan atau diharapkan mendapatkan hasil buruk justru mampu membalikkan ekspektasi. Mereka justru mampu mencatatkan penampilan terbaik dan membuat publik terkejut dengan kesuksesannya. Hasil yang dicapai bermacam-macam, ada yang sekedar tampil dan meraih hasil diluar ekspektasi hingga keluar sebagai juara.

Ada banyak alasan mengapa tim-tim ini sama sekali tidak diperhitungkan, mulai dari asal region yang dianggap lemah, belum mampu berbicara banyak di kompetisi Internasional baik karena performa yang sering anjlok atau minimnya pengalaman, hingga tidak menunjukkan hasil yang meyakinkan selama Summer Split.

Berikut ini adalah lima tim underdog yang mampu menciptakan kejutan dan mencatatkan hasil terbaik di World Championship meskipun sama sekali tidak diperhitungkan.

G2 Esports (World Championship 2018)

Sumber: LoL Esports

Datang sebagai seed ketiga dari Eropa dan duo Botlanenya dianggap sebagai kelemahan utama pada meta yang awalnya berpusat di Botlane, hanya sedikit orang saja yang memperhitungkan G2 Esports. Seluruh perhatian dan dukungan tertuju pada Fnatic, wakil utama Eropa yang pada tahun lalu memang sangat dominan.

Meskipun sukses menunjukkan hasil yang dominan selama babak Play-In, tantangan sesungguhnya baru datang saat G2 Esports bertanding di Grup A bersama Afreeca Freecs, Flash Wolves, dan Phong Vu Buffalo. Afreeca Freecs dan Flash Wolves jauh lebih diunggulkan untuk lolos sementara Phong Vu Buffalo berpotensi mencetak kejutan dan merusak peluang tim lain.

Hari pertama mereka langsung mencetak kejutan dengan menaklukkan Afreeca Freecs dan menyelesaikan babak pertama grup dengan hasil 2-1. Pocket pick milik Hjarnan yaitu Heimerdinger menjadi senjata utama G2 Esports. Lawan-lawannya dipaksa untuk membuang satu ban untuk Heimerdinger jika tidak ingin memberikan g2 Esports "auto win".

https://www.youtube.com/watch?v=DBW42pETFqg

Babak kedua grup memang tidak berjalan mulus usai menderita dua kekalahan dari Flash Wolves dan Afreeca Freecs sehingga mengancam peluang G2 Esports. Phong Vu Buffalo muncul sebagai penyelamat G2 Esports dengan mencetak kemenangan atas Flash Wolves dan memberikan G2 Esports laga Tiebreaker. G2 Esports sukses memenangkan laga Tiebreaker tersebut dan lolos dari grup A.

Lagi-lagi G2 Esports kembali dihadapkan pada tembok besar karena mereka harus berhadapan dengan favorit juara Royal Never Give Up di babak Perempatfinal. Melihat perbandingan kekuatan Botlane yang amat sangat jauh, Royal Never Give Up jauh lebih diunggulkan untuk lolos.

Royal Never Give Up sukses tampil dominan pada game pertama dan sama sekal tidak memberikan G2 Esports kesempatan. Meskipun sempat kecolongan di game kedua, match point sukses didapatkan Royal Never Give Up di game ketiga. Keunggulan ini seolah-olah menandakan bahwa perjalanan G2 Esports di Worlds 2018 akan segera berakhir di tangan favorit juara.

G2 Esports tidak menyerah begitu saja dan berjuang keras di game keempat. Permainan cemerlang dari Perkz dan Wunder sukses memberikan G2 Esports keunggulan yang dominan dan memaksakan game kelima. Permainan impresif tersebut berhasil dipertahankan di game kelima. Perkz dan Wunder menjadi carry utama, Jankos terus menciptakan peluang, sementara Hjarnan-Wadid berusaha memberikan pressure.

https://www.youtube.com/watch?v=_vR384WGd8Y

Lewat satu teamfight besar di menit ke-37, G2 Esports sukses menaklukkan Uzi dan melumpuhkan kekuatan Royal Never Give Up untuk menyingkirkan favorit juara dan lolos ke babak Semifinal.

Meskipun pada akhirnya G2 Esports tumbang di tangan Invictus Gaming yang kemudian menjadi juara, G2 Esports sukses melampaui ekspektasi publik dan menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan, khususnya di sektor Botlane yang dianggap sebagai titik lemah utama.

Cloud9 (World Championship 2018)

Sumber: LoL Esports

Jika tim-tim lainnya sudah terbentuk dan bermain bersama sejak awal musim, roster Cloud9 justru baru terbentuk selama Summer dari eksperimen pemain yang dilakukan sang pelatih Reapered. Tak hanya baru bermain dalam waktu yang singkat, 3 dari 6 pemain yang diboyong Cloud9 ke Worlds (Licorice, Blaber, dan Zeyzal) masih berstatus sebagai Rookie.

Apalagi pada saat pembagian grup usai lolos dari babak Play-In, Cloud9 ditempatkan di grup maut bersama Royal Never Give Up, Gen.G, dan Vitality. Keadaan ini sudah pasti membuat publik meragukan kesempatan Cloud9 untuk lolos dan diprediksi akan menjadi bulan-bulanan favorit utama grup Royal Never Give Up dan Gen.G. Hasil 1-2 pada babak pertama semakin meyakinkan prediksi publik.

Namun keadaan berubah seketika saat memasuki babak kedua dimana Cloud9 sukses menyapu bersih tiga laga. Tak hanya itu, mereka juga sukses mencatatkan kemenangan Head-to-head atas juara bertahan Gen.G. Tempo permainan yang bergeser ke early-mid membuat Cloud9 merasa nyaman dan bisa menggunakan strategi yang lebih agresif menghadapi tim-tim yang lamban. Hasil impresif tersebut membuat Cloud9 sukses lolos dari grup maut dan menjadi tumpuan utama region NA.

https://www.youtube.com/watch?v=hYfpFxrg9N4

Melawan Afreeca Freecs di babak Perempatfinal, Cloud9 sama sekali tidak mengendurkan tempo permainannya. Mereka sukses menghabisi perwakilan terakhir Korea Selatan lewat permainan yang sangat dominan di game pertama dan kedua. Meskipun Afreeca Freecs menunjukkan kebangkitan di game ketiga, Cloud9 sukses menutup game ketiga dengan kemenangan dan lolos ke Semifinal.

https://www.youtube.com/watch?v=S4xK_LCQDeA

Perjalanan Cloud9 memang harus berakhir tragis di tangan Fnatic usai tumbang 0-3 di babak Semifinal, namun apa yang berhasil dicapai Cloud9 ini amat berkesan bagi region NA karena untuk pertama kalinya dalam 7 tahun bisa menembus Semifinal dan membuktikan bahwa NA masih bisa berbicara banyak di panggung Internasional.

Misfits (World Championship 2017)

Sumber: LoL Esports

Sebagai tim yang memulai musim 2017 sebagai debutan dari EU Challenger, bisa bermain di Worlds pada tahun yang sama melalui seed kedua memang menjadi prestasi yang impresif. Meskipun begitu, Misfits bukanlah tim yang terlalu diperhitungkan karena statusnya sebagai tim Rookie. Di babak grup, Misfits justru diprediksi bakal menempati posisi juru kunci sementara World Elite dan TSM lebih diunggulkan.

Misfits memang sempat terlihat kesulitan mengarungi babak grup. Sempat mengawali babak pertama dengan hasil 2-1, mereka sempat menderita hasil buruk di babak kedua dengan hasil 1-2. Untungnya dua kekalahan tersebut sama sekali tidak mempengaruhi Misfits saat kembali berhadapan dengan TSM di babak Tiebreaker. Lewat permainan yang dominan, Misfits sukses menjejakkan kakinya lolos dari babak grup.

Di babak Perempatfinal tantangan besar menanti mereka dimana juara bertahan SK Telecom T1 akan menjadi lawan mereka. Melihat perbandingan kekuatan yang amat sangat jauh, Misfits lagi-lagi diprediksi akan hancur di tangan SK Telecom T1. Prediksi tersebut menguat usai SK Telecom T1 memenangkan game pertama lewat kemenangan yang dominan.

https://www.youtube.com/watch?v=MrTuDF2tr50

However, Misfits tidak menyerah begitu saja. Berbekal Pocket Pick dari sang Support IgNar yang memainkan Blitzcrank di game kedua dan Leona di game ketiga, Misfits sukses membuat SK Telecom T1 terkejut dan mencetak kemenangan yang impresif. Match Point sukses dikantongi Misfits dan mereka berhasil memaksa SK Telecom T1 untuk bermain lebih serius.

Permainan berlanjut hingga menyentuh game kelima. Meskipun Misfits kalah, apa yang mereka tunjukkan selama babak grup dan saat berhasil menjadi tim barat kedua yang berhasil memaksa tim Korea Selatan sekaliber SK Telecom T1 untuk memainkan game kelima patut diapresiasi.

Albus NoX Luna (World Championship 2016)

Sumber: LoL Esports

Jika cerita-cerita diatas datang dari tim-tim yang berasal dari region besar, cerita Albus NoX Luna ini justru sebaliknya. Albus NoX Luna datang dari region LCL (Rusia) yang baru saja terbentuk pada tahun 2016 sehingga menjadikan Albus NoX Luna sebagai tim yang masih sangat muda.

Keadaan ini membuat Albus NoX Luna menjadi tim yang sangat tidak diperhitungkan. Bahkan jika dibandingkan dengan sesama tim Wildcard atau Minor region INTZ Esports yang berasal dari Brasil, INTZ Esports dipandang masih jauh lebih kuat dibandingkan Albus NoX Luna meskipun sama-sama kurang diperhitungkan karena pada saat itu tim Wildcard hanya dipandang sebagai tim "free win".

Albus NoX Luna berada di grup A bersama dengan G2 Esports, CLG, dan favorit juara ROX Tigers. Prediksi bahwa Albus NoX Luna akan berakhir di dasar grup tanpa kemenangan pun bermunculan dan para pemainnya juga datang tanpa memiliki ekspektasi apapun. Status underdog membuat mereka kesulitan mendapatkan partner latihan. Namun siapa sangka, tim LCL ini justru akan muncul sebagai tim yang mampu mengubah wajah region Minor.

https://www.youtube.com/watch?v=QMG1cajvNss

Albus NoX Luna memang sempat mengawali pertandingan pertamanya dengan kekalahan telak dari ROX Tigers, namun pada pertandingan berikutnya mereka sukses melumat G2 Esports dan CLG untuk mengakhiri babak pertama dengan hasil 2-1. Performa apik tersebut terus dilanjutkan pada minggu kedua saat mengalahkan G2 Esports dan ROX Tigers.

Permainan super agresif yang ditampilkan oleh Albus NoX Luna ditambah dengan pool Support yang luas milik Likkrit menjadi kunci utama kemenangan timnya. Bahkan saat melakoni pertandingan kedua melawan ROX Tigers, ROX Tigers melakukan ban terhadap tiga Champion Support (Brand, Bard, Tahm Kench) yang mana ban tersebut amat menguntungkan Albus NoX Luna dan sukses mencetak kemenangan gemilang.

https://www.youtube.com/watch?v=Yll-XwyqEDo

Kemenangan yang berhasil dicetak atas ROX Tigers tersebut membuat Albus NoX Luna berhasil lolos dari grup A, mematahkan semua prediksi yang menyebutkan bahwa mereka tidak akan lolos dari grup. Sejauh ini Albus NoX Luna adalah satu-satunya tim Wildcard yang berhasil lolos dari babak grup Worlds.

Perjalanan mereka memang terhenti di babak Perempatfinal usai tumbang di tangan H2k, namun apa yang berhasil dicapai oleh tim Wildcard ini tercatat dalam sejarah Worlds.

Taipei Assassins (World Championship 2012)

Sumber: LoL Esports

Cerita-cerita mengenai kejutan dan hasil tidak terduga tidak hanya datang dari tim-tim generasi baru saja melainkan sudah terjadi sejak era pertama kompetisi League of Legends. Tim tersebut tak lain dan tak bukan adalah tim asal Taiwan Taipei Assassins. Taipei tidak hanya berhasil menciptakan kejutan yang bersejarah dengan menaklukkan tiga tim favorit juara, namun berhasil keluar sebagai juara.

Taipei Assassins sukses lolos ke Worlds 2012 usai mendominasi Kualifikasi Regional wilayah Taiwan/Hong Kong/Macau. Meskipun sukses mendominasi kompetisi domestik, tidak ada yang tahu bagaimana kiprah Taipei Asassins melawan tim-tim kelas dunia lainnya. Dengan kata lain, tim ini sama sekali tidak diperhitungkan.

Ada tiga tim kuat yang diprediksi bakal menjadi juara atau setidaknya bakal lolos ke babak Final. Tim-tim tersebut adalah Moscow5 yang dikenal dengan agresivitasnya, CLG.EU yang dikenal dengan late gamenya, dan Azubu Frost yang memiliki level permainan jauh diatas pesaing-pesaingnya. Tak hanya itu, pada saat itu tim Korea Selatan juga sedang dominan.

https://www.youtube.com/watch?v=2FZcaMMNJUw

Sebagai juara Kualifikasi Regional, Taipei Assassins langsung ditempatkan di babak Perempatfinal dan lawan pertama mereka adalah perwakilan kedua asal Korea Selatan NaJin Sword yang lolos usai menggulung lawan-lawannya di babak grup.

Sejak game pertama, Taipei Assassins langsung tancap gas dan mendominasi pertandingan. Berkat permainan Orianna milik Toyz, mereka sukses meaksa NaJin Sword menyerah di game pertama. NaJin Sword berusaha kembali di game kedua, namun lewat teamfitght yang agresif dan koordinasi yang superior Taipei Assassins sukses mengunci kemenangan dan lolos ke babak Semifinal.

Setelah menghadapi lawan kuat di babak Perempatfinal, lawan yang jauh lebih kuat menanti di babak Semifinal yakni favorit juara Moscow5. Moscow5 langsung menunjukkan taringnya usai mendominasi game pertama, seolah memberikan sinyal bahwa perjalanan Taipei Assassins akan berakhir sampai disini.

https://www.youtube.com/watch?v=gCH01jFU9qA

Taipei Assassins tidak menyerah begitu saja. Lewat permainan sporadisnya dan teamfight yang lebih superior, Taipei Assassins sukses menyamakan keadaan dan memaksakan game ketiga. Di game ketiga, Taipei Assassins menggunakan strategi yang berbeda dimana mereka lebih memusatkan kontrol objektif dan konstan melakukan sieging.

Keunggulan Gold yang sangat jauh ini membuat Taipei Assassins lebih dominan. Moscow5 tidak bisa berbuat banyak dan harus merelakan kemenangan direbut oleh tim yang tidak diperhitungkan. Taipei Assassins berhasil lolos ke babak Final.

https://www.youtube.com/watch?v=WPef-vvEnFA

Tantangan yang dihadapi Taipei Assassins tidak berakhir di babak Semifinal. Di babak Final, mereka harus berhadapan dengan favorit juara Azubu Frost. Azubu Frost datang dengan kekuatan penuh. Usai berhasil menyapu bersih babak grup, mereka sukses menghancurkan TSM di Perempatfinal dan menyingkirkan favorit juara lainnya CLG.EU di babak Semifinal.

Taipei Assassins menunjukkan perlawanan sengit di game pertama, namun satu Quadrakill dari RapidStar berhasil membalikkan keadaan dan memberikan Azubu Frost kemenangan pertamanya. Taipei Assassins bangkit di game kedua, dengan mengandalkan pick Dr. Mundo Jungle mereka sukses membuat Azubu Frost kewalahan.

https://www.youtube.com/watch?v=BxuDPDfoylU

Game ketiga juga tidak berbeda jauh. Pick Orianna milik Toyz membuat Azubu Frost kewalahan dan tidak bisa berbuat banyak, memaksa Azubu Frost untuk melakukan surrenderdalam 20 menit. Taipei Assassins hanya butuh satu game lagi untuk memenangkan gelar juara dan mereka tidak menyia-nyiakan peluang tersebut.

Setelah berhasil mendapatkan early kill, Taipei Assassins terus menerus memberikan tekanan tanpa henti. Azubu Frost sama sekali kesulitan dan bahkan terlihat tidak bisa memberikan balasan terhadap permainan Taipei Assassins. Dalam 38 menit, Taipei Assassins sukses mengunci game keempat dan menjadi juara Worlds 2012.

Datang sebagai tim underdog, Taipei Assassins berhasil melampaui ekspektasi dengan mengalahkan tiga tim kuat termasuk favorit juara dan keluar sebagai juara. Perjalanan legendaris Taipei Assassins ini konon disebut-sebut sebagai satu dari segelintir Underdog Run paling epik dalam sejarah Esports.

Worlds tahun ini kemungkinan besar juga akan kembali memunculkan kisah-kisah serupa seperti tim-tim daitas. Alur cerita yang dibawa oleh masing-masing tim nanti sudah pasti akan menghasilkan beberapa cerita menarik sepanjang Worlds 2019.

Share this Article

Ads

Tags Populer

Ads
Home
News
Competition
Live Score
Videos