Dota 2

Pandangan Oddie Tentang Dominasi Pemain Dota 2 Indonesia di Top 10 Leaderboard SEA

Yubian "Arnheim" AsfarMonday, 11 June 2018
Logo article
Ads
Dota 2 menjadi ranah kompetitif esports di PC yang masih paling digemari di Indonesia. Selain karena menghibur, grafis yang indah juga pilihan hero yang banyak, kehadiran para pemain profesional Dota 2 juga menjadi hiburan tersendiri. https://wp.revivaltv.id/dota-2/reset-medal-dota-2/ Beberapa nama seperti inYourdreaM, Xepher, Fbz, Dreamocel, dll. menjadi atlit yang meramaikan persaingan dan kompetisi Dota 2 di Indonesia. Namun beberapa pemain tersebut rupanya memimpin perolehan leaderboard Dota 2 Asia Tenggara. [caption id="attachment_38819" align="alignnone" width="800"]rusman dota 2 Xepher - inYourdreaM [/caption] Momen unik sekaligus membanggakan terjadi pada 6 Juni 2018 sebelum update patch reset medal Dota 2. Sebanyak 6 pemain Indonesia menempati top 10 leaderboard SEA. Maka dari itu RevivalTV menarik analisis dari Oddie, Mineski's Dota 2 Analyzt & Caster, sekaligus mantan pelatih RRQ mengenai momen tersebut. [caption id="attachment_39245" align="alignnone" width="630"] Top 10 Leaderboard SEA. Source: Dota 2[/caption] "Menurut saya (hal ini) bukan kebangkitan dan memang dari dulu pemain Indonesia sudah memiliki mechanical skill dan intuisi yang baik dalam bermain di ranah kompetitif Dota 2. Pada saat MMR masih menggunakan sistem yang dulu pemain Indonesia juga cukup sering berada di top 100 SEA meskipun tidak sedominan sekarang.

BACA JUGA: [Exclusive Interview] Cerita Maurice “KheZu” Gutmann Tentang Pengalaman, TI8, dan Tim Impiannya

Meskipun demkian, sekarang dominasi pemain indonesia di leaderboard SEA belum menghitung faktor para pemain bintang SEA lainnya seperti Abed atau Midone yang terus berkompetisi di turnamen skala internasional. [caption id="attachment_39246" align="alignnone" width="800"] Oddie (kanan) di meja caster.[/caption] Selain karena mereka tidak bermain di region SEA, ada juga faktor hilangnya para pemain top SEA seperti DDZ." jelas Oddie. Abed dan Midone menjadi dua pemain SEA yang cukup sering melalang buana di ranah kompetitif Dota 2 skala internasional. Midone memperkuat Team Secret dan Abed menjadi ujung tombak tim fnatic. [caption id="attachment_39248" align="alignnone" width="960"] Abed dengan fnatic di ESL Birmingham 2018. Source: ESL[/caption] Indonesia pun turut berbangga dengan kehadiran Xepher juga inYourdreaM di komposisi roster TNC Tiger (meski masih dalam status trial, setidaknya saat artikel ini ditulis). Lantas, Oddie membagikan opininya tentang faktor-faktor penghalang tim atau pemain Indonesia berkancah di turnamen skala internasional. [caption id="attachment_37124" align="alignnone" width="662"] Indra (tengah) bersama Oddie (kiri) dan Donna Visca (kanan). Image Credit: Dunia Games[/caption] "Daripada masalah, menurut saya mereka hanya mereka hanya belum menemukan 'faktor IT' di mana seseorang bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya di saat yang tepat. Jadwal yang penuh dari ranah kompetitif Dota 2 di setiap season dan juga jarangnya Indonesia mendapatkan kesempatan yang besar seperti region lain menjadi salah satu faktornya." ungkap mantan pelatih RRQ tersebut. [caption id="attachment_36445" align="alignnone" width="912"]mineski dac 2018 Mineski menjadi juara DAC 2018[/caption] Asia Tenggara sudah cukup lama mengemban status underdog di setiap ranah kompetitif Dota 2 skala internasional. Selain karena dominasi tim Eropa dan juga China, Asia Tenggara hanya mengirim setidaknya 'tim penghibur' di turnamen-turnamen internasional. Namun Mineski dari Filipina memecahkan rekor dengan menjadi tim Asia Tenggara pertama yang memenangkan ajang major, Dota 2 Asia Championship. Selain Mineski, Filipina juga memiliki tim TNC Predator dan Malaysia memiliki tim fnatic. [caption id="attachment_36879" align="alignnone" width="662"]Mineski GESC Thailand Image Courtesy: Mineski Pro Team[/caption] Hal ini kembali menjadi dilema bagi Indonesia yang bisa dibilang memiliki segudang pemain berbakat namun nihil di turnamen internasional. Lalu apa saja perbedaan ranah kompetitif Dota 2 Filipina dengan Indonesia yang menyebabkan ada gap yang cukup besar? "Menurut saya tidak ada perbedaan yang mencolok antara Dota 2 Filipina dengan Indonesia, hanya saja mereka telah mendapatkan pengalaman yang lebih banyak dari turnamen internasional khususnya LAN turnamen. [caption id="attachment_36014" align="alignnone" width="662"] RRQ di ajang LAN GESC: Indonesia Minor. Source: RevivalTV[/caption] Oleh karena itu perkembangan mereka jauh lebih pesat daripada Indonesia," tutup Oddie dalam sesi wawancara. Sang golden boy, Muhammad "inYourdreaM" Rizki sendiri belum mampu membawa TNC Tiger memenangkan ProDota Cup SEA setelah dikalahkan oleh Clutch Gamers. Di sisi lain, BOOM ID masih menempati top tim Indonesia dengan rentetan prestasi dalam negri. Tim tersebut juga memiliki level permainan sekelas Asia Tenggara lewat ajang2 MPGL, Zotac Cup, ROG Masters APAC dan APAC Predator. [caption id="attachment_32423" align="alignnone" width="960"] BOOM ID di posisi runner-up ajang APAC Predator 2018. Source: Acer Predator[/caption] Untuk saat ini leaderboard tidak lagi diisi oleh 6 pemain Indonesia setelah adanya pembaharuan reset medal Dota 2 yang dilakukan pada 7 Juni 2018 lalu. Tapi tidak salah bila kita mengharapkan tim Dota 2 Indonesia mampu bermain di turnamen skala internasional. Bisa saja top 10 leaderboard menjadi awal bangkitnya kejayaan ranah kompetitif Dota 2 Indonesia. #IndoPride
Diedit oleh Yabes Elia

Share this Article

Ads

Tags Populer

Ads
Home
News
Competition
Live Score
Videos