Hasil-hasil yang terjadi di sepanjang MPL ID S18, sejak awal musim reguler bergulir hingga setidaknya hari ketiga playoffs, menghadirkan sebuah plot twist terbesar dalam sejarah esports Indonesia: tim-tim dengan basis penggemar raksasa yang sebelumnya mampu mendominasi liga, kini sudah tidak tersisa. Peta persaingan telah berubah secara drastis, mematahkan prediksi, dan meruntuhkan singgasana yang selama ini dijaga ketat oleh nama-nama besar.
Setelah RRQ Hoshi kembali menelan pil pahit dengan kegagalan lolos ke fase playoffs, tragedi bagi tim-tim raksasa berlanjut ketika ONIC dan EVOS secara mengejutkan tereliminasi lebih awal di fase play-ins. Absennya ketiga raksasa ini di fase akhir playoffs MPL ID S18 telah memastikan bahwa tidak ada satu pun dari tiga tim yang pernah mendominasi kasta tertinggi esports MLBB Tanah Air ini yang masih bertahan di perburuan gelar juara.
Di sisi lain, kekosongan takhta tersebut langsung diisi oleh dominasi kuat dari NAVI dan Team Liquid ID (TLID). Sejak awal musim reguler MPL ID S18, kedua tim ini menunjukkan konsistensi tingkat tinggi yang terus bertahan hingga fase krusial playoffs.
NAVI bahkan telah sukses memastikan satu tempat di babak Grand Final, sementara TLID masih harus berjibaku menghadapi perlawanan sang juara bertahan, Bigetron by Vitality (BTR), untuk bisa menyusul ke panggung puncak.
Segala rentetan drama yang mulai memanas sejak MPL ID S17, dan kini mencapai titik didihnya di MPL ID S18, membuktikan satu realitas baru: kasta tertinggi kompetisi MLBB di Tanah Air ini bukan lagi milik entitas tertentu.
Banyak elemen yang kini benar-benar runtuh, mulai dari dominasi tim, hegemoni player bintang, hingga pamor pertandingan ikonik yang telah dibangun bertahun-tahun. Menariknya, keruntuhan ini justru bisa menjadi kabar baik bagi ekosistem liga itu sendiri.
Dominasi Tim-tim MPL Indonesia dari Waktu ke Waktu

Selama 18 musim gelaran MPL Indonesia berlangsung, sejarah mencatat munculnya beberapa era kekuasaan tim-tim tertentu yang sangat mencolok. EVOS pernah membangun eranya dengan meraih dua gelar juara dalam rentang empat musim (Season 4-7).
Kemudian, RRQ membangun dinasti yang lebih panjang dengan menyabet empat gelar dalam delapan musim (Season 2-9). Puncaknya adalah dominasi absolut ONIC yang seolah menjadikan turnamen ini sebagai “liga tani” mereka, dengan mengangkat tujuh piala dari sembilan musim terakhir (Season 8-16).
Hadirnya sebuah era dominasi dari satu atau beberapa tim saja sebenarnya adalah hal yang cukup lumrah terjadi, bahkan di ajang kompetisi olahraga tradisional berskala besar sekalipun. Dominasi prestasi ini juga terbukti membuat fan base tim-tim tersebut melonjak drastis, yang secara tidak langsung bisa menjadi sarana promosi masif dan efektif bagi scene esports MLBB di Indonesia.
Namun, di balik gemerlap tersebut, terdapat efek negatif yang mengakar. Tim-tim lain mengalami kesulitan luar biasa dalam membesarkan basis penggemar mereka melalui jalur prestasi, harus mencari cara lain dalam mengembangkan komunitasnya.
Dominasi dan besarnya basis penggemar tim-tim raksasa ini juga menciptakan ilusi ketergantungan, yang mana liga seolah sangat bergantung pada eksistensi tim besar untuk mendapatkan eksposur dan jumlah penonton. Sebuah kondisi yang tentu tidak sehat bagi perkembangan liga dalam jangka panjang.
Kini, sejak MPL ID S17, fondasi dominasi EVOS, RRQ, dan ONIC mulai retak, dan puncaknya di S18, tidak ada satu pun dari mereka yang bertahan melewati hari pertama playoffs.
Meredupnya Sinar Bintang-bintang Utama di MPL ID S18

Runtuhnya hegemoni tim-tim besar sedikit banyak juga dipengaruhi oleh memudarnya keperkasaan wajah-wajah utama player MPL ID. Mereka yang sebelumnya selalu dianggap sebagai yang terbaik di setiap role-nya, kini mulai kehilangan sentuhan magisnya.
Pergeseran kekuatan ini sudah sangat kentara sejak babak reguler musim ini. Kairi, yang selama beberapa musim terakhir diakui secara luas sebagai jungler terbaik di skena kompetitif, tampil kurang memukau. Selain karena faktor tim ONIC yang tengah mengalami banyak kesulitan, secara statistik individu pun tidak ada angka yang benar-benar mentereng dari player asal Filipina tersebut pada musim ini.
Tidak hanya Kairi, deretan nama beken lainnya yang biasa mengisi jajaran elit juga mengalami hal serupa. Pemain-pemain bintang seperti SANZ, Kiboy, Kelra, Alberttt, Nnael, EMANN, Nino, Affan, Dingarai, ABOY, hingga QINN cukup sulit untuk secara mutlak ditempatkan sebagai yang terbaik di role-nya masing-masing pada musim ini. Panggung kini terbuka lebar bagi bintang-bintang baru untuk unjuk gigi.
Dari semua player baru, Joshuaa sebagai jungler anyar milik NAVI benar-benar membukakan mata semua orang bahwa siapa pun bisa bersinar dengan kemampuannya sendiri. Dirinya layak untuk disebut sebagai jungler terbaik di musim reguler MPL ID S18 dengan memuncaki daftar rata-rata kill dan rata-rata KDA tertinggi di musim debutnya.
Beberapa Label Derby yang Sudah Tak Relevan

Konsekuensi lain dari runtuhnya era dominasi ini adalah melunturnya pamor dari laga-laga besar. Seiring dengan tim-tim raksasa yang kini kesulitan disebut sebagai favorit juara, pertandingan derby yang mempertemukan mereka ikut kehilangan nilai magisnya di panggung MPL Indonesia.
Sejak beberapa musim terakhir, pertandingan derby yang sebelumnya selalu dinantikan karena menjanjikan pertarungan epik tingkat tinggi, kini sering kali hanya tersisa sebatas fanatisme buta, buah romantisisme dari kejayaan masa lalu.
Sebagai contoh, Derby Klasik yang melibatkan RRQ Hoshi dan EVOS kini bisa dibilang hanya sekadar ajang adu gengsi antar tim, pemain, dan penggemar untuk membuktikan siapa yang “lebih baik” dari sang rival. Secara kualitas permainan dan taktik, laga tersebut tak lagi merepresentasikan pertarungan dua tim terkuat di liga.
Kondisi serupa menimpa Royal Derby antara RRQ dan ONIC. Laga ini belakangan masih tetap didengungkan hanya karena sebatas julukan kedua tim yang lekat dengan kata “Raja” atau “Kerajaan”, bukan lagi karena adu kekuatan puncak yang sempat mendominasi liga beberapa tahun lalu.
Demikian pula dengan Derby International antara EVOS dan ONIC—sebagai representasi tim MPL ID pemegang gelar juara ajang internasional resmi MLBB—kini terasa sudah tidak relevan lagi dengan realita peta kekuatan teraktual.
Menyikapi hal ini, pihak MPL Indonesia sepanjang Season 18 tampak melakukan berbagai manuver kampanye untuk melabeli “derby” pada pertandingan-pertandingan baru yang mempertemukan tim-tim lain yang tengah naik daun. Usaha ini dilakukan demi mendongkrak pamor dan mempertahankan ketertarikan penggemar.
Meski merupakan strategi marketing yang wajar, langkah ini terbilang cukup aneh dan tidak biasa dibandingkan musim-musim sebelumnya di mana derby terbentuk secara organik oleh komunitas, melalui rivalitas prestasi.
Runtuhnya Dominasi Entitas Tertentu, Kabar Baik bagi MPL Indonesia

Meski pamor tim-tim favorit dengan basis penggemar raksasa tengah meredup, selalu ada silver lining atau hal positif yang bisa dipetik oleh MPL Indonesia. Runtuhnya dinasti-dinasti lama ini membuktikan bahwa liga tertinggi MLBB Tanah Air tersebut kini tidak berada di dalam genggaman siapa pun.
Memang, argumen ini masih bisa sedikit dibantah apabila Bigetron by Vitality yang berstatus sebagai juara bertahan, mampu kembali mengangkat piala di akhir MPL ID S18. Namun, terlepas dari siapa yang pada akhirnya keluar sebagai kampiun, proses menuju takhta tersebut telah berubah.
Kini, semua tim tampak memiliki peluang dan probabilitas yang sama untuk menyentuh prestasi tertinggi. Iklim kompetitif menjadi jauh lebih sehat dan tidak bisa ditebak.
Setiap player, entah dia seorang veteran yang kaya pengalaman maupun seorang rookie yang baru mencicipi panggung besar, memiliki kesempatan yang sama untuk bersinar terang berkat kerja keras dan kualitas murni permainannya di Land of Dawn. Sebuah era baru tak bertuan, kini telah dimulai!
